diambil dari https://kpopsotoybanget.wordpress.com/2013/07/04/ff-omcia-yadong-boy-in-my-apartement-part-2/
Previous Part>>
TENG TUNG
Suara bel pintu menyadarkan diriku dari bayang-bayang namja mesum itu. Aku pun menerka-nerka siapa yang menekan bel itu. AH! Aku tau! Dia pasti partnerku yang akan menemaniku di apartemen ini, yang akan mengisi satu lagi deluxe bed di sebelahku ini.
Aku pun dengan semangat melangkahkan kakiku. Memegang erat kenop pintu dan hendak memutarnya.
SRETT
Aku pun memutarnya dan menarik kenop pintu itu. Betapa kagetnya aku mendapati seseorang di depanku yang sedang memegang alamat sebuah apartemen.
“Aku hanya mengikuti kata orang tuaku dengan datang kesini setelah pulang sekolah”
Katanya datar..
Tanpa sadar bulu kudukku meremang. Aku menatap wajahnya yang pernah kukenali sebelumnya.
NAMJA MESUM ITU YANG AKAN MENJADI PARTNERKU?! KINI IA BERDIRI DI HADAPANKU DENGAN SMIRK ANDALANNYA!
ANIYAA!!
#
Leera POV
Aku hanya mematung menatap smirknya itu. Entah aku bingung apa yang harus kulakukan. Kesal atau malah takut? Yang jelas sekarang aku memandang wajahnya itu dengan tatapan tajam tidak suka. Sekaligus dalam hatiku terbesit sedikit rasa takut karena ‘kemesuman’ nya.
“Perkenalkan aku Kim Jong In,” Namja di depanku itu mengulurkan tanganya padaku. Spontan pandanganku teralih kebawah untuk melihat uluran tangannya dengan malas.
“Park Leera” Kataku tanpa membalas uluran tangannya. Mana mau aku mempersentuhkan tanganku begitu saja padanya. Shireo!
Kulihat ia hanya memandangku dengan tatapan malas, menarik uluran tangannya dengan keras dan mengangkat sebelah alisnya. Sok cool eoh? Belum saja aku mempersilahkannya masuk, ia langsung menerjang bahuku dan masuk begitu saja ke dalam apartemen. Namjatidak sopan!
“Hey! Aku belum mempersilahkan dirimu untuk masuk, tuan Kim!” Aku berbalik arah menghadap bahunya yang kini telah berada di dalam apartemen. Meneriakinya dari belakang.
Wae? Kulihat ia tidak menghiraukan diriku sama sekali.
“Kim Jong In!” Untuk kesekian kalinya aku meneriakinya. Bahunya itu tidak kian berbalik ke arahku. Ia terus menuju ke arah dapur.
Aku pun berinisiatif untuk mengikutinya ke dapur. Ya, sekedar memberinya sedikit ceramah. Karena ini adalah apartemenku! Yang diberikan oleh eomma padaku!
“Kim Jong In!” Aku kini menyentuh bahunya yang lebih tinggi dariku itu.
Selang beberapa waktu setelah itu perlahan ia berbalik kearahku. Ia memandang wajahku yang berada tepat di depan lehernya. Dia semakin menghimpit tubuhku. Membuatku kaget akan tingkahnya yang tiba-tiba itu. Sejenak aku merasakan deru nafasnya yang mengenai wajahku. Aku bisa mencium parfum yang ia gunakan, kurasa begitu juga dengannya. Karena jarak kami sekarang sungguh sangat dekat. Aku berusaha melepas himpitannya. Namun, hal itu sama sekali tidak berguna. Aku bisa melihat pupil mata Kim Jong In yang menatapku lekat. Aku berusaha menatapnya tajam memberinya sebuah tatapan kebencian. Namun, dia tak kunjung melepasku.
“Dengar ya Park Leera, mulai sekarang apartemen ini milikku juga. Dan kau tidak boleh egois..”
TRAPP!
Aku di dorong begitu saja kebelakang. Membuatku terhempas dan hampir kehilangan keseimbangan. Aku hanya memberi tatapan kaget padanya. Sementara ia mulai meneguk sebuah air mineral dengan acuh seolah tak terjadi apa apa tadi!
Shit,
Mengapa aku jadi lemah?
Dan..
What the hell, Kim-Jong-In! Berani-beraninya kau lakukan itu padaku!
Jangan karena orang tuamu menyuruhmu tinggal disini jadi kau berbuat seenak jidat padaku! Huh, bisa-bisa aku cepat tua jika berhadapan dengan namja itu. Dasar gila!
Kurasa aku terlalu lelah. Aku pun segera merebahkan tubuhku di atas ranjang. Dan memikirkan masa depan, ya! masa depan! bagaimana dengan esok, lusa, dan minggu depan jika aku hidup dengan seorang namja di apartemenku. Apa eomma itu gila ? Mengapa partnerku bisa namja huh?
Aku pun melirik sekeliling kamarku. Dan tiba-tiba pandanganku terhenti pada sebuah deluxe bed yang berada 1 meter di sebelah ranjangku.
Aniya! Benar juga! si mesum itu akan tidur di ranjang itu! di deluxe bed yang berada 1 meter di sebelah ranjangku ini. Jadi, jadi? kita tidur satu ruangan? No no no! aku tidak mau! Aku punya 1001 alasan baginya untuk pindah ke ruangan lain! Pokoknya dia harus tidur di ruang tamu!
PIP PIP PIP
Pikiranku teralih ke sebuah suara nyaring di sebelah lenganku. Aku pun meraih benda yang berbunyi itu. Ia itu bunyi ponselku. Aku pun mengecek apa yang terjadi sehingga ponselku berbunyi.
From: Eomma Yang Super Cerewet (Ditulis hangul)
Leera? Jangan lupa mengganti seragammu saat pulang sekolah. Itu kebiasaan buruk. Eommaharap kau segera menghilangkan kebiasaan burukmu itu nak. Dan tolong jangan buat masalah disana.
Ya! eomma kau tahu saja jika aku belum mengganti seragamku!
Aku pun bangkit dari posisiku yang berbaring ini. Lalu pandanganku teralih ke pintu kamar.
“Jangan sampai dia masuk kamar saat aku ganti baju…” Gumamku
Aku pun segera menutup pintu kamar. Menguncinya, dan… mengambil sebuah meja kecil untuk menjanggalnya. Kalian pasti berfikir aku hiperbola, namun jika kalian jadi aku pasti kalian akan melakukannya juga! dijamin!
“Beres..” Aku menghela nafas lega saat pintu aman. Kini aku bisa ganti baju dengan tenang. Huftt..
Aku pun mulai melepas rompiku. Aku melemparkan rompi itu ke tempat tidur. Lalu pandanganku beralih ke kancing seragamku yang belum terbuka. Aku pun meraih kancing demi kancing untuk membukanya.
Bagus! semua kancing sudah kubuka.. dan aku tidak perlu khawatir karena aku sudah menguncinya..
TOK TOK TOK!
“Ya! Park Leera! Aku ingin tidur siang! buka pintunya!” Sebuah suara bass terdengar dari balik pintu kamar. Ya! itu suara Kim Jong In!
shit, mati aku..
Aku pun dengan bergegas membuka rok dan kini menuju lemari paKaian. Mencari paKaian panjang dan tertutup.
“Mana mana… ayolahh celana panjang! shit! mengapa semuanya celana pendek?!” Gumamku panik.
“Ya! Park Leera! cepat buka atau kudobrak!”
Mati aku.. ayolah mana celana panjang!! Aku pun kembali mengacak-acak isi lemariku, mencari sebuah celana pendek agar bisa menutupi pahaku. Namun, yang ada hanyalah sebuah celana pendek.
!!!!!!!
Aku pun terus mencari sebuah celana panjang. Dan akhirnya di lapisan paling bawah aku menemukannya! Yeah!
TRTT
Aku pun mengambil celana itu dan memaKainya. Dan tentu saja sebuah kaos lengan panjang mudah untuk kutemukan. Yeah, hidupku sudah aman sekarang. Aku pun memberi sebuah kode pada namja yang tidak sabaran itu.
“Ne Jongin! tunggu sebentar akan kubukakan!” Aku memekik lalu segera menuju pintu. Aku pun menyingkirkan meja kecil yang kugunakan untuk menjanggal dan dengan segera aku membuka kuncinya. Cepat kan?
Pintu itu pun langsung dibuka olehnya.
“Ya! kenapa kau begitu lama untuk membukanya?” Jongin menatapku penuh selidik. Lalu pandangannya pun beralih ke sebuah seragam yang tergeletak begitu saja di lantai. “Wah? kenapa kau tidak bilang?”
Aku pun mengangkat sebelah alis ku dengan acuh dan lipatan tangan di dada. “Bilang apa? dan untuk apa aku bilang?”
Jongin pun menarik bibirnya. Ya, dia tersenyum miring.
“Tentu saja kalau kau bilang. Aku sudah mengintip dari tadi” Jongin mengatakan itu dengan nada datar. NADA TIDAK BERDOSA!
Babo! apa yang dia fikirkan eoh?! Mengintip?! M-E-N-G-I-N-T-I-P ?! Dasar gila! Otak mesum! Pikiran kotor! Tidak berguna! Huh! Berani-beraninya ia pada yeoja super cute sepertiku-_-
Aku pun segera pergi dari kamar itu. Aku sudah tidak ingin menjerit lagi. Meninggalkannya sendirian karena aku sudah sangat kesal padanya. Baju seragamku yang ada di lantai? YA! AKU TIDAK PEDULI! Yang penting sekarang aku bisa keluar dari ruangan ini.
Aku pun segera berlalu. Menuju ke ruang tamu untuk sekedar menghibur diri. Ya, mungkin dengan menonton TV bisa mengembalikan mood ku. Aku pun menyambar sebuah remote dan menyalakannya.
TAP
Suara cekikikan dari TV pun segera muncul. Memenuhi telingaku. Acara komedi. Ya ini bagus untuk sekedar menghiburku.
10 Menit aku menikmati acara itu. Namun, mood ku masih saja belum membaik.
“Membosankan.. dan.. menyebalkan” Aku pun bangkit dari sofa dan menuju ke dapur. Ya tak bisa dipungkiri aku belum makan siang.
Aku pun membuka kulkas.
“Mwoya? tidak ada makanan?!” Sebuah pemandangan di dalam kulkas itu sukses membuatku shock setengah mati. Ya, tidak ada makanan instan yang bisa langsung kumakan. Setidaknya spaghetti atau mie instan? tidak ada di dalam kulkas mahal itu. Ya! tidak ada. Dan yang ada hanyalah..
Aku pun membuka sekat demi sekat kulkas itu dan memeriksanya dengan teliti.
Sebuah selada? kol? sayuran? Kau bercanda? aku tidak suka sayuran!
Mati aku, apa yang harus kumakan?!
Aku pun terduduk di kursi makan. Memegangi pelipisku dan berfikir keras. ‘Apa yang bisa kumakan eoh?’
Satu-satunya jalan ialah membeli sebuah makanan di toko. Kau bisa beli segalanya di toko! apalagi dompetku sekarang ini sedang sangat tebal. Namun, aku ingat sekali kalau toko itu sangat jauh dari apartemen ini. Bisa-bisa aku gempor kalau jalan kaki. Yeah, gempor-_-
Aku pun teringat dengan namja itu-Kai. Ia kan bisa membawa mobil! Tapi memintanya mengantarku? Tch! Tapi…
Kalau aku tidak memintanya mengantarku, lantas aku pergi naik apa? jalan kaki? shireo! lebih baik aku naik mobil..
Aku pun melangkah pelan dari dapur. Sambil menimang-nimang fikiranku aku melangkah ke kamar tempat Kai tidur. Ya, aku ingin memintanya mengantarku berbelanja makanan. Lagipula kalau tidak ada makanan di rumah ini. Ia juga akan kelaparan kan?
DRAPP
Aku membuka pintu kamar. Dan aku melihatnya tertidur pulas di atas ranjang. Mengapa wajahnya begitu cute saat tidur?
PLAK
Aku pun menampar pelan pipiku sendiri saat memikirkan itu. ‘Buat apa aku bilang dia cute?’ Gumamku dalam hati.
Aku pun melangkah berat ke ranjangnya. Berniat mengguncang pundaknya yang terlemas karena terlelap. Kumulai mendekati nya, dan sungguh hebat, dia sama sekali tidak mendengkur. Namun, betapa hebatnya dia yang tidur masih dengan seragam-_-
“Kim Jong In..” Aku mengguncang tubuhnya. Agak keras.
Tak ada respon darinya.
“Jongin-ssi..” Aku kembali mengguncangnya dan melihat reaksinya.
Tetap tak ada respon.
Gotcha! Bagaimana dengan sebuah ancaman?
“Bangun atau kusiram kau dengan air!” Pekikku padanya.
“Ne! aku bangun!” Tiba-tiba sebuah gerakan mengagetkanku. Kini Jongin telah terduduk di ranjangnya sambil menguap dan melenggangkan badannya. Yeah, rencana mengancam ternyata berhasil!
“Hoammm..” Ia menguap lebar dan mengucek-ucek matanya yang berair. “Mwoya? aku baru saja tidur dan kau membangunkanku?” Ia bertanya padaku. Kali ini nadanya datar seperti biasanya.
Aku menelan ludah. Ya baiklah, memang kewajibannya mengantarkanku ke suatu tempat.
“Antarkan aku belanja!” Kataku ketus. Jongin yang mendengar itu spontan memandangku dengan tatapan tidak terima.
“Siapa kau berani menyuruhku begitu?”
Aku pun mengacak rambutku dan menatapnya tajam. “Ya! Kim Jong In.. aku ini ingin membeli makanan. Jika aku tidak makan, maka K-A-U juga tidak akan makan, mengerti?” Aku mengucapkan itu dengan sebuah penekanan di kata ‘Kau’. Kini kutatap wajah Jongin. Dia terlihat sedang berfikir keras.
“Hmmm..” Ia bergumam dan kini ia menatap bola mataku dengan erat. Tiba-tiba suara keroncongan yang besar muncul dari perutnya. HAH!
“Ne, baiklah.. aku juga tidak ingin mati kelaparan” Jawabnya dengan datar (lagi). Dan langsung bangkit dari ranjang dan menuju pintu. Hey? mengapa iajadi begitu bersemangat?
Aku pun segera bangkit dan menyusulnya.
Di Mobil,
Author POV
Sekejap waktu Leera dan Kai sudah berada di dalam mobil . Mobil sport merah itu baru saja meluncur keluar dari tempat parkir apartemen. Leera merasa sangat tidak nyampan duduk di sebelah kursi pemudi. Kini ia berada di dalam suatu kendaraan hanya bersama namjayadong itu. YA! hanya bersama dia. Hanya berdua, dan tidak ada yang bisa menjadi penyelamat Leera saat Kai melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Leera terus memandangi kaca mobil di depannya dan tak lupa juga ia memandang kaca mobil di sebelahnya. Dia benar-benar menghindari untuk menatap wajah namja itu. Entah hal apa yang membuatnya begitu eumm.. aneh. Sementara Kai, sepertinya ia menyadari gelagat yeoja super waspada itu.
“Ah.. Leera-ssi?” Kai bertanya pada Leera tanpa menatap wajah yeoja itu. Pandangannya masih teralih ke jalanan, “Apa kau tidak pernah memaKai sabuk pengaman saat kau berada di mobil?” Setelah mengatakan itu tanpa sadar Kai tersenyum kemenangan. Ya, kemenangan bahwa dia berhasil membuat yeoja itu takut dan menurut Kai, yeoja itu terlihat sangat salting. Wah Kai pede banget ih-_-
Leera tersentak oleh pertanyaan sekaligus pernyataan dari namja yadong yang berada tepat di sebelahnya itu. Ia lalu tersadar akan suasana dan menatap wajah Kai yang terlihat sangat santai, tidak seperti Leera yang begitu gupek. ‘Babo, babo, babo.. kenapa aku jadi lemah?!’ pekik Leera dalam hati.
“Hey, jawab pertanyaanku..!” Kai terus menatap jalanan sambil menggenggam stirnya. Ya, senyum kemenangan masih ada disana. Leera buru-buru menjawab,
“Jangan kau pikir aku tuli ya! aku mendengar tahu, hanya saja..” Ucapan Leera terhenti, ia sibuk mencari alasan di otaknya. Namun, Kai langsung menyerangnya duluan.
“Hanya saja apa? Kau salah tingk…-” Senyum Kai yang bisa disebut juga senyum evil atau smirk itu lagi-lagi mengembang. Membuat matanya sedikit mengecil dan hampir membuat ledakan tawa. Namun, yeoja itu mendahuluinya. Tak lain tak bukan karena ia telah menemukan alasan untuk berbohong!
“Hanya saja sabuk pengamannya susah ditarik, pabo!” Leera spontan menjitak kepala Kai yang dekat dengan tangannya. Sungguh sasaran empuk.
“Wadaww!” Kai mengelus kepalanya dengan tangan kirinya. “Ya! mengapa kau menjitakku?! apa salahku?” Kai masih meringis pelan. Kali ini pandangannya yang semula terkunci ke jalanan kini dengan sukses menegok ke arah yeoja itu.
“Aku yakin kau sudah menyangka yang tidak-tidak! cih!” Leera melipat tangannya di dada dan kini gantian. Pandangannya lah yang mulai terkunci di jalanan, seolah tidak ingin melihat Kai. Kai yang melihat itu bukannya marah malah melakukan smirk lagi lalu menghadap ke jalanan.
‘Aku tahu kau salah tingkah, Park Leera.. haha’ Tuduh Kai dalam hati.
#
Seoul Minimarket
KRINGG
Leera mendorong minimarket itu. Terdengar sebuah lonceng bel yang nyaring. Aroma AC dan komplikasi parfum jeruk mengisi hidungnya. Udara dingin dan segar itu dihirupnya dalam-dalam saat ia mulai menikmati langkah pertamanya di minimarket itu. Sementara Kai berdiri di belakangnya, ia menyusul Leera. Padahal ia tidak menyuruhnya turun.
Kini Leera berada di bagian mie instan. Ia ingin membeli sekitar 1 lusin (12 buah). Sementara Kai berbeda tempat dengan Leera. Entah anak itu dimana.
Leera terbengong menatap puluhan merk mie instan di etalase. Ia berfikir keras. Dan mulai memilah milah.
“Hmmm.. apa bedanya merk ini dan itu? mie goreng atau rebus?” Ia bergumam sendiri sambil memilih-milih. “Ahhh.. mie goreng tentunya lebih enak!” Akhirnya tangan Leera menyentuh bungkus mie goreng. Lalu Leera yang semula puas dengan apa yang dipilihnya tiba-tiba bingung lagi.
“Tunggu dulu, anak itu suka rasa apa?” Leera kembali mendesah kesal. “Arghhh merepotkan!” Leera lalu berjinjit agar bisa mencapai sebuah mie kare ayam, kini tangannya baru saja menyentuh bungkusnya, karena itu sangat tinggi. Ia bergumam dalam hati ‘Apakah ini kesukaannya?’
“Ne.. kau benar ini kesukaanku”
Tangan Kai tiba-tiba juga meraih mie kare ayam yang sedang dipegang oleh Leera. Refleks Leera mengambil tangannya kembali dari etalase dan mulai menjerit-jerit kemarahan dengan Kai.
“Ya! Jangan menyentuhku!” Leera menjerit pada Kai yang hanya terbengong mendengarnya. Lalu Kai segera mengambil mie itu dan berujar santai pada Leera yang kelihatannya terbakar emosi itu.
“Wae Park Leera? aku hanya ingin mengambil mie kesukaanku..” Kai mengangkat sebelah alisnya dan berlalu. Sementara Leera yang melihatnya geram setengah mati. “Ya! Kim Jong In! kau cuma mau satu mie? oke besok kau tidak makan!”
Jongin tidak menghiraukan Leera. Ia terus saja berjalan meninggalkan yeoja yang mengoceh-oceh itu.
“Mengapa dia bisa sesantai itu ?! Apa dia tidak tahu aku marah eoh?!” Pekik Leera dalam hati.
Akhirnya Leera menenangkan diri dan kembali memilah mie. Dia baru teringat kalau dia belum mengambil keranjang. “pabo Leera, mengapa yeoja cute sepertiku ini sering ceroboh?” Gumamnya.
Leera pun memutuskan untuk mengambil keranjang dan dia bertemu Kai. “Nih ambil keranjangku..” Kai mendorong keranjang itu ke arah Leera. Sementara Leera hanya mencibir. “Tch…” Ia lalu mengambil keranjang itu dan kembali mengambil mie untuk dimasukan ke keranjangnya.
Leera lalu berkeliling untuk mencari makanan instan lainnya untuk makan di apartemen nanti.
Skip>
Kasir
Leera mengeluarkan kartu kreditnya. Memandangnya penuh arti,
‘Wahai kartu kredit. Maafkan aku harus memaKai saldomu demi membeli makanan ini’
Leera sepertinya tidak tega untuk melepaskan saldonya pada mesin kasir yang berkarat itu. ‘Shireo! mengapa aku jadi tidak ikhlas?’
Tiba-tiba datanglah Kai. Seperti pahlawan kesiangan-_- Ia mengeluarkan dompetnya dan di serahkannya ke Leera. Leera hanya terbengong menatapnya. “Jinja?” Kata Leera.
“PaKailah..” Jawab Kai singkat dan lagi-lagi datar. Lalu Leera menyambar dompetnya itu. “Oh aku benci mengatakan ini, tapi.. gamsahamnida” Kata Leera berterimakasih.
Kai lalu menunggu di ujung kasir. Dia mengamati Leera yang sedang membayar. Kai hanya tertawa-tawa sendiri dalam hati melihat alis Leera yang terus menekuk. “Dasar tukang marah..” Gumam Kai.
Sementara itu ada apa dengan Leera? ia sibuk menghantarkan mie-mie itu ke atas meja kasir. Lalu petugas kasir itu menyapu mie itu di depan sebuah alat dan akhirnya berbunyi BIIP. Setelah kegiatan itu semua selesai, tiba-tiba petugas kasir itu meniup terompet dan tersenyum lebar pada Leera.
“Chukkae! Kalian adalah pasangan ke 100 yang berbelanja di minimarket kami! itu berarti kalian memenangkan liburan ke pulau jeju selama seminggu! dan juga tiket gratis menonton pororo the movie di bioskop!!”
Petugas kasir itu berbicara sampai muncrat-muncrat. Ekspresi Leera yang mendengarnya hanya terbengong-bengong. Dan lama-lama emosinya naik saat ia menyadari omongan dari petugas kasir itu yang tidak benar dan… mengjengkelkan.
“YA! AKU BUKAN KEKASIHNYA!” Leera langsung menyambar pelastik belanjaannya. Ia menatap petugas kasir itu dengan death glare nya.
“Tttapi, bagaimana dengan hadiahnya? Sayang kalau dibuang begitu saja!” Petugas itu kembali nyerocos, sementara mata Leera sudah terdapat api yang membara.
Leera POV
LIBURAN DI PULAU JEJU!? ANDAI SAJA KALAU TIDAK BERSAMA NAMJA ITU! AKU PASTI SUDAH JINGKRAK JINGKRAK SENANG!
Pabo dasar tukang kasir!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (tanda seru jebol-_-)
Aku yang sedang meremas kencang pelastik belanjaanku lalu hendak berlalu dari kasir. Namun baru semeter berjalan sebuah tubuh besar menabrakku.
“Ya! Leera pabo mengapa kau tolak hadiahnya!” Kai mengguncang-guncang pundakku dan menatapku dengan tatapan yang kesal.
“Pulau Jeju! pororo!” Kai terus mengoceh kepadaku. Aku lalu menabrak pundaknya dan segera keluar dari minimarket ini. Dunia semakin menggila!
NB: Kai suka sekali Pororo
#
Author POV
Apartemen,
Leera menaruh belanjaannya di meja dapur. Sementara Kai melempar kunci mobilnya ke atas meja. Namja yang terkenal pemalas itu bersandar di sofa, sambil mendengarkan suara perutnya yang sedari tadi memang terus berbunyi. Terdengar grasak grusuk dari arah dapur. Leera yang sedang memasak dan merapihkan bahan-bahan makanan.
“Ya! Mohon cepat ya membuatnya!” Kai menjerit dari arah sofa ke dapur. Tentunya masih dengan posisi bersandar. Seakan bos saja-_-
Leera yang mendengar itu sontak memanas. Leera paling tidak suka disuruh-suruh semena-mena begitu. Di rumahnya ia tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah seutuhnya. Dan kini ia menjadi pelayan Kai? Tentu saja ia tidak terima.
“Tch, Enak saja! Masak sendiri punyamu, babo!” Leera mendengus kesal sambil menyusun mie itu di rak dapur.
“Ya! Kau tahu Park Leera aku tidak bisa memasak!” Kai lagi-lagi menjerit. Dan.. masih bersandar di sofanya.
“Kalau begitu belajarlah memasak!” Leera kembali menjerit dari dapur. Tepat saat itu ia menaruh mie instan rasa kare ayam ke rak. Dengan hentakan keras.
Setelah itu Kai tidak menjerit lagi. Ia lelah dan hanya terduduk pasrah, “Ne… terserahlah” Gumam Kai. Ia lalu menuju kamar. Berniat tidur dan menahan laparnya. /poor Kai/
Sementara Leer a masih di dapur tak sadar akan kemelasan Kai. Ia masih saja menekuk mukanya, seharian ini rasanya ia tak pernah tersenyum. Karena siapa ia begitu? Karena siapa lagi kalau bukan gara-gara namja yadong yang kini tinggal bersama dengannya, Kai.
Leera pun memasukan mie ke dalam rebusan. Dan juga meracik bumbunya sesuai petunjuk di kemasan. Tentu saja ia hanya memasak mie nya sendiri.
Lalu mie pun jadi. Ia mengaduknya agar tercampur dengan bahan-bahan.
“Dadadidadiduu..” Leera mulai bersenandung. Sepertinya mood nya mulai membaik saat mie nya sudah menimbulkan aroma yang sedap. “Hahh.. akhirnya kau bisa makan Park Leera..”
Leera pun menuju sofa untuk menonton tv sambil makan. Aktivitas yang sangat memanjakan. Ia pun melenggangkan kakinya agar memanjang ke bawah. Lalu menghembuskan nafas lega. Dan melanjutkan aktivitasnya itu.
Sudah 20 menit Leera di depan tv. Tak sadar tiba-tiba ia tertidur di sofa. Untung saja piring mie nya sudah di taruh di meja. Kelihatannya Leera sangat lelah. Dan sekarang sudah pukul 2 siang.
Sementara di kamar Kai hanya berbaring di kasurnya. Ia tak sadar kalau Leera tertidur di luar, karena tv masih hidup dan Kai berfikir bahwa anak itu masih kuat menonton tv. Kai berbaring dan mengelus-elus perutnya yang sedari tadi berbunyi. “Hah.. percuma saja aku mengantarkannya kalau ia tidak mau membuatkanku makanan”
Kai pun menyambar ponselnya. Mencari kontak D.O. Soulmate nya yang jago masak itu. Ia lalu mengetik pesan untuknya.
To: Do Kyungsoo
Hyung, bisakah kau datang ke apartemenku? Aku kelaparan dan tidak ada yang memasak untukku. Tolonglah hyung. Aku kelaparan..
Kai menekan tombol send dan akhirnya sebuah bunyi PIP terdengar. Ia lalu menaruh kembali ponselnya dan memandang langit-langit kamar sembari menunggu balasan D.O.
DRZTTTTT
Ponsel Kai berbunyi. Itu berarti balasan dari D.O
From: Do Kyungsoo
Omo, My Kai. Mengapa kau bisa tinggal di apartemen? Yasudah, cepat berikan aku alamatnya dan aku akan segera kesana.
Kai pun tersenyum akan balasan D.O ia lalu dengan cepat mengetik balasan untuk D.O
To: Do Kyungsoo
Gomawo hyung. Ini alamatnya, Sunrise Apartemen Lantai 30 kamar nomor 156. Oh iya ingat kamar luxius class. Ppali hyung aku sudah tidak tahan..
Akhirnya Kai kembali memencet tombol send. Dan terdengar bunyi PIP lagi.
From: Do Kyungsoo
Oge, aku akan datang, kau tunggu ya. Bagaimana kalau aku mengajak Baekhyun, Sehun dan Suho hyung juga? Mungkin mereka akan tertarik melihat apartemen barumu.. ne! pokoknya aku akan mengajak mereka juga dan kami akan melihat apartemen barumu!
Kai yang melihat balasan D.O merasa senang karena D.O dengan senang hati akan datang. Namun…… betapa kagetnya Kai saat melihat kalimat terakhir.
“Mwoya? Baekhyun, Suho dan Sehun akan datang?!! Aniyaaa.. babo, aku bisa diejek habis-habisan karena tinggal dengan yeoja itu!” Kai lalu kembali mengetik balasan untuk D.O. Tentu saja dengan cepat dan panik.
To: Do Kyungsoo
Ani ani hyung.. aku hanya meminta kau untuk datang. Tolong jangan bawa anak-anak itu ke apartemen baruku. Mereka bisa mengacaukan semuanya.
Kai pun segera memencet tombol send. Namun apa yang terjadi? Bunyi PIP tidak terdengar dan muncul tulisan.
Message not sent. Save to outbox.
Kai lalu mengacak rambutnya kesal. Ia lalu membanting hapenya ke kasur. Tampaknya ia sedikit frustasi karena pesannya tidak terkirim ke D.O. Kai pun menyadari bahwa, pulsanya telah habis.
“Mati aku.. kalau anak-anak pembikin masalah itu datang.. bisa-bisa..” Kai lalu menutup wajahnya dengan bantal. Ia terus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Baboooooooooooooooooooooooooo…. Arghh mengapa pulsa ku habis!” Kai pun panik sembari menunggu ajalnya datang (maksudnya kedatangan Baekhyun Sehun dan Suho-_-). Ia terus memikirkan cara untuk mencegah mereka datang namun tak kunjung ketemu.
TENG TUNG
10 menit berlalu dan pintu apartemen Kai pun berbunyi. Tanda anak-anak pembawa masalah itu sudah datang. Kai hanya membeku di kamar dan tak mau membuka pintu namun,
“Ah.. siapa yang datang saat aku tidur siang begini?” Leera yang tertidur di sofa sontak terbangun karena menengar bunyi bel apartemennya. “Ya tunggu tunggu,” Ia lalu bangkit dari sofa dan berlangkah gontai menuju pintu. Sementara itu Kai langsung keluar dari kamar dan menjerit pada Leera.
“Jangan! Jangan dibuka!” Kai berujar panik dan menjerit pada Leera. Leera hanya mengangkat bahunya dan mencibir. “Hoammm.. mengapa jadi panik begitu? Aku hanya ingin membukakan pintu untuk tamu, dasar aneh..”
Leera lalu menyambar gagang pintu dan perlahan lahan membukanya. Terlihat beberapanamja di depan pintunya itu. Ekspresi namja–namja di depannya itu terlihat bingung dan menekuk alisnya.
“Kau?? Mengapa kau bisa disini?!”
To Be Continued
Next Chapter
‘Ya! Yeoja ini kan yang tadi pagi itu?!’
‘Mengapa kau bisa disini!?’
–
‘Babo! Mengapa kau membawa teman-temanmu itu?!’
‘Arghhh aku tidak tahu mereka sendiri yang datang!’
–
‘Jelaskan padaku mengapa kalian bisa tinggal bersama!’
–
‘Kai, aku ingin minta tolong padamu..’
‘mwoya?’
‘Bantu aku mendapatkan hati Park Chanyeol..’
No comments:
Post a Comment